Laman

Minggu, 07 Februari 2016

Sebuah Asa dan Omong Kosong yang Menyertainya



Aku tak tahu ini jenis tulisan apa, Arlina, setidaknya, segala yang kutulis adalah bagian dari siratan rasa yang mendekam berbulan-bulan lamanya. Jadi cukup diamlah saja, sebab jika kau tertawa, maka aku akan malu luar biasa.
            Semoga kau masih ingat tatkala kita berdua berteduh di bawah atap yang sama, sama-sama bersedekap—barangkali memang itulah yang mesti dilakukan agar dingin menjadi lingkap. Cuaca memang kian menggigil, tak tahu mengapa kita mesti bersua sedemikian rupa. Namun andai saja semuanya terjadi pada sebuah jalan yang penuh kehangatan, kemudian kita bertabrakan—seperti salah satu adegan basi sinetron yang sepatutnya dimuseumkan, pastilah kita tak akan punya waktu lebih untuk berkenalan.  
Kau tahu? Tiba-tiba saja jantungku berdesir hebat saat mata ini melirikmu. Kau tampak duduk tenang sembari memandang (mungkin saja) titik-titik hujan yang berloncatan seperti belalang yang tembus pandang. Loncatan yang begitu jernih, pikirku, sejernih matamu, mata yang beberapa detik kemudian berbalik ke arahku. Tentu tak dapat terelak mata kita bersitatap, saling mengikat, likat menjerat, dan di situlah pikiranku dilanda penasaran yang hebat.
            Baiklah, jujur saja kala itu aku benar-benar mencari cara bagaimana aku mesti mengawali pembicaraan kita. Seperti pada kisah-kisah yang biasa saja, aku bertanya, “Nona mau ke mana?” Lalu kau tersenyum (sedikit sekali) dan menjawab bahwa kau akan pergi ke sebuah desa. Bagaimanapun kebetulan hampir selalu ada di setiap cerita—yang akan diceritakan, maka tanpa mengurangi rasa pura-pura, aku akan bercerita bahwa destinasimu adalah tempat yang kutuju juga. Meski, memang itulah kenyataannya.
            Tak perlu waktu yang banyak bagiku untuk mengetahui namamu, Arlina, tentu lantaran kau begitu ramah. Tenang saja, aku bukanlah pria yang berpikiran “mewah”: tak akan menganggap perempuan jutek itu sombong dan perempuan yang ramah itu murah. Tiadalah yang murah bagi keramahan yang engkau ciptakan, Arlina, bahkan di setiap pancar senyuman yang kautunjukkan, tentu tak akan ada alasan bagiku untuk tak menjadikanmu salah satu kenangan terindah dalam hidupku.
            Lalu aku kembali berbasa-basi dengan menanyakan (sekadar) keperluan apa dirimu pergi ke desa.
            “Ingin menemui suamiku,” jawabmu ragu-ragu.
            Dan setamsil tersambar halilintar, aku mati sejenak meski tak terkapar. Hujan yang sedari tadi menghunjam tanpa ampun pun serasa terhenti, waktu tetap berdetak, namun segalanya tak bergerak. Sungguh logikanya di mana?
            Dari situ—kita akhirnya berpisah sebab kemudian aku menerobos hujan—wajahmu selalu mengiang-ngiang di pikiranku. Lari-lari kecil sekadar menyapa ketika aku sedang merenung seorang diri, atau sesekali mencolek ingatan ketika surat kekaguman ini aku tuliskan. Begitu pula aku percaya bahwa sebaiknya manusia memang tak usah berharap pada seseorang terlalu banyak, apalagi kepada ia yang menjengul dalam hidup beberapa jenak. Atau manusia harus rela untuk kecewa, atau mau tak mau mesti mengikhlaskannya. O, Arlina, kelak saat kita kembali berjumpa, semoga kau telah menjadi janda.  
             
           

Jumat, 01 Januari 2016

Aku, Setetes Embun

Selain kau, Sayang, tiada yang pernah percaya bahwa dulu sebelum menjadi manusia, aku adalah setetes embun yang melayang-layang di udara. 19 tahun silam, tubuhku tercampak ke antah berantah, jatuh di tempat yang tak kuketahui—yang kausebut dengan Negeri Mimpi. Aku memberi nama diriku sendiri: Rinai Embun—persis dengan jalan takdirku sebelumnya,  yang kaubilang bagus, yang kaukatakan menentramkan, seperti pancaran mata cantikku yang menyegarkan, katamu. Aku pun tersipu.

Lalu, kau meyakinkanku bahwa betapa lebih baik aku memang dilahirkan tanpa orang tua, bukan menjengul semata dari rahim ibu—yang bahkan secuil saja tak pernah memberikanku kesan rasa cinta. Aku selalu percaya kata-katamu, "O, Embun, kau bahkan tak lahir dari kehendak Tuhan, muncul bukan sebagai harapan, dan semata-mata ada, tidak sebagai jawaban atas jiwa-jiwa yang kesepian. Kau benar-benar perwujudan baru dari kesia-siaan!" Lalu kau melanjutkan, "Tapi, tak usahlah bersedih, kita berdua adalah sama. Kita lahir dari kesengajaan yang tidak diinginkan. Lantas, sebenarnya telah menjadi bagian dari ujian mereka. Namun, sebab mereka "lari", jadilah kita menjadi ujian untuk diri kita sendiri. Kita sama-sama tak lebih dari sampah berserakan; sama-sama terbuang, lalu dipertemukan. Biarlah selayaknya kau menjadi embun saja, penyejuk hatiku yang gersang, kerontang, dan barangkali lekang oleh tuarang."

Sungguh, aku benci ujian, Sayang, karena ia memaksaku untuk tetap menitikkan air mata padahal sudah kutahan. Terus menahan, seperti katamu, walau entah sampai kapan. Dan nyatanya itu menyakitkan. Kau pasti pernah merasakannya juga, kan?

Tubuhku penuh bekas luka—bergaris legam. Kau ingat, bukan? Aku telah menunjukkan semuanya kepadamu. Matamu melotot saat melihat tubuhku. Kau tampak terkesiap dan ingin mencoba menyembuhkannya dengan teknik baru, katamu. Awalnya, kau menyentuh segalanya perlahan, pula memijat—serta menjilat—penuh perasaan. Namun, kenapa lama kelamaan seperti kesetanan? Dan betapa aku hanya diam saja, kecuali yakin bahwa erangan-eranganmu adalah bagian dari cara terbaru untuk mengobatiku.

Kini, kita terpisah, Sayang. Oleh jarak dan sekat-sekat yang sebetulnya tidak pernah aku mengerti. Buat apa? Dan kenapa bisa ada? Meski kau berulang kali menjelaskannya kepadaku, meski kaubilang bahwa dirimu bukanlah yang dulu, aku tetap saja tak mengerti. Bagaimana mungkin manusia bisa berbeda—misalnya aku, aku masih tetap orang yang sama: masih wanita yang mengagumimu, merindukanmu, dan mencintaimu. Jadi, di mana letak perbedaannya? Kau berkilah bahwa di dunia ini hanyalah aku wanita yang tak bisa berubah. Karena aku manusia yang berbeda, berpijak di bumi hanyalah sebatas menuntaskan mimpi.

Kauberikan aku sebuah foto: kita berdua, mulutmu tertawa—lebar menganga, bersama aku di sampingmu. Dapatkah aku memercayai rasa itu adalah bahagia? Aku tahu kau akan selalu ingat rasanya memelukku di angkasa. Saat itu kita berputar, terbang mengitari cakrawala. Kau memelukku dari belakang, mungkin matamu terpejam. Kau pasti tahu, mega biru dan sayap-sayap kita akanlah menjadi saksi bisu sebentar lagi mimpi kita diestafetkan kepada calon manusia yang ada di perutku. Selepasnya, aku akan kembali menjadi rinai embun yang mengapung di udara. Katamu terakhir kali, "Segala yang ada di Negeri Mimpi bisa terjadi, termasuk seseorang yang bisa tiba-tiba datang, tiba-tiba pula sirna, bahkan perlahan menuju lembah ketiadaan." Nyatanya, kita memang tak pernah bertemu lagi setelahnya.

Akhirnya, foto inilah satu-satunya bukti bahwa kita pernah saling mencintai. Maka, saat telah menjadi embun lagi, aku membawanya ke mana-mana. Kupamerkan kepada semua bahwa aku pernah jatuh cinta. Pernah suatu ketika ada yang bertanya siapa yang memotretnya, kau tahu, pasti aku hanya diam seribu bahasa.

Kutoarjo, ditemani rintik hujan pertama di tahun ini. 

Rabu, 23 Desember 2015

bunyi yang bertalu-talu di kepalaku

hampir tiap malam bunyi-bunyian itu menderu di kepalaku. sebelum tidur, lalu membuatku terjaga. aku tak tahu itu apa, jelasnya ia terdengar begitu nyata.

kau tahu, bunyi-bunyian itu merebak bak lonceng kematian. berkelindan, memenuhi otak dan sekujur badan. kian waktu pun kian menyedihkan. ia terasa bagai alunan rekuiem yang kesedihannya tak bisa lagi terutarakan. selalu, ia menyulut kerinduan yang sedari dulu aku simpan; rindu pada setiap ikrar yang mengembus bersamaan napas yang selalu aku bangga-banggakan. 

suatu kali aku pernah memerhatikannya dalam diam. ia bertalu-talu tiada henti seolah ingin menyadarkanku bahwa kehidupan ini akan segera mati. ini bukan tentang nyawa, kurasa, justru segalanya tentang rasa. hidup tak punya rasa barangkali seperti orang yang tak punya kehidupan. setamsil, orang miskin akan tetap hidup biasa saja kalau ia tak merasakan kemiskinannya, atau sebaliknya, orang miskin suatu ketika bisa mengatakan dunia ini teramat kejam sebab ia merasakannya. begitu lebih kurangnya, dan kau tentu boleh untuk tak percaya.

kemarin, aku mencoba mendengarkannya dengan lebih saksama. nyatanya, bunyi-bunyian itu malah melamban. aku tak mengerti. kebingungan. aku diam, mencoba tenang dan berkonsentrasi. benar saja, ia berbunyi lagi. namun kali ini seperti suara manusia. bersyair. suaranya bak desir angin yang mengingatkan masa lalu yang tak pernah getir. air mataku kemudian jatuh perlahan. bibirku terasa bergetar. tanganku gemetar. aku tak sanggup lagi mendengarkannya. kali ini aku betul-betul muak. jenuh. dan malu. aku jengah karena bunyi itu seperti mengingatkanku pada cita-cita yang belum terlunaskan. harapan yang berdentang dalam titian massa, yang selalu kuceritakan pada teman-teman, mungkin dengan mata yang mantap menatap masa depan.    


Rabu, 16 Desember 2015

Pemahat Topeng

O, sang Pemahat Topeng
Berhentilah bicara atau mulutmu akan keropeng
Kaupikir kau meyakinkan?—berdalih layaknya ucapanmu sahih?
"Sudah takdirku begini," katamu
"Aku butuh kebebasan," lanjutmu
Persetan!

Bibirmu selicik anak panahberacun getah
Ramah! Padahal meletup-letupkan air kawah
"Justru seperti itulah aku pasrah," kau berkilah!
Ah, sudahlah...
Kutahu hujan tak lagi membuatmu basah

Lihat saja, sebentar lagi kau pasti akan mencari Tuhan
Pada rasa di ujung-ujung tanduk kegelisahan
"Ya, Tuhan, tolonglah aku," katamu nanti.
Tak kenal waktu, tak tahu malu
"Aku kini sudah bertaubat, Tuhan," seperti itu, raungmu tak henti-henti

Aku malu menatapmusungguh!—kau tahu itu
Senyummu kini tak tampak bahagia
Kedipan mata tak lagi ada
Parit-parit kening pun telah sirna
O, sang Pemahat Topengbuanglah pahatanmu segera
Astaga... kau bahkan memakainya saat aku sedang berkaca!?

Semarang, 2015






Rabu, 02 Desember 2015

Muhasabah

Di bangku ini, aku terus menunggu seseorang yang kupercayai menjadi juru kunci dari sekian banyak pintu yang kumiliki
Di bangku ini, aku terus menerus menunggu ia, seolah sedang menanti seorang kekasih yang aku pun tak tahu kapan datangnya

Lalu, kenangan seperti merajuk tiba-tiba

Teringat likat dalam benak, ketika pada suatu pagi embun menetes dari kerlingan mata
Kubuka jendela, lantas kuhirup harumnya udara
Aku membasuh muka dengan asa-asa yang teruar dari jiwa
Hatiku pernah bercita, "Pada suatu ketika, aku akan menjadi orang yang mampu mengubah dunia walau sedikit saja."

Suatu waktu, seseorang bilang kepadaku, "Pangkaslah segala duri yang ada di jari-jarimu."
Aku diam saja
Membiarkannya--bagai kentut di kerumunan manusia yang berbunyi namun tak ada baunya sama sekali
Untuk apa dipermasalahkan, bukan?

Pada akhirnya aku menyadari, bagaimanapun duri, ia tetaplah tajam rentan menyakiti
Apalagi jika tak berhati-hati
Maka, detik ini juga kuikrarkan, aku akan memotongnya kecil-kecil hingga menjadi butiran
Kemudian repihan-repihan--bagai debu--itu kutiup
Tentunya bersamaan dengan segala doa dan pengharapan yang semestinya abadi
Semoga setelah ini, aku menjadi manusia baru yang lebih berhati.

Semarang, 2015. Di depan ruang dosen.








Kamis, 29 Oktober 2015

Rasi Kunci


Kau datang saat pekat tertaut dalam belikat
Sedari lama, jauh sebelum hari melindapnya cahaya
“Hei, lihat,” katamu menggarit malam
Bulan meronta karena kalah jelita

Telunjukmu mengarah ke langit yang sengit
Bersamaan dengan waktu yang tersesap pahit
“Itu namanya Rasi Bintang Biduk,” jelasmu
Teruntuk para sesat sebagai penunjuk

Ah, seperti kunci, pikirku
Lalu aku menamainya kunci hati
Tatkala menunjukkannya, senyummu meleburkan luka
Meski di saat itu pula malam merona pesona
Tak kuduga, pintuku pun menjadi terbuka

Kunci langit, kataku
Kunci yang teruar dari gugusan kata-katamu
Kulantangkan, "Aku menginginkanmu."
Kau tersipu…
Rasi kunci menjadi saksi bisu
Kita bercumbu 
Dalam kelam malam yang ambigu


Rabu, 21 Oktober 2015

Kidung Hujan dalam Kenangan Rembulan



Melalui tatapannya yang dalam, Rosyad pernah bilang bahwa aku adalah bintang di hatinya. Lalu, ia akan sangat senang jika aku mengijinkannya menjadi rembulan. Karena katanya, ia tak akan pernah lagi kesepian jika ditemani bintang seperti diriku.  
Selalu, beberapa detik selepas mata ini bertumbukan dengan purnama di malam yang cerah, saat senyuman Rosyad terpahat dalam guratan rembulan, bayang-bayang Eden muncul sebagai kegelapan.
“Tak usah percaya! Itu hanya bualan Rosyad,” tukas Eden sambil menyeringai, “Kau boleh saja menjadi apa pun yang kau mau, tapi aku tidak terima jika kau disamakan dengan bintang. Ah, pikirkan baik-baik andai kau memang suka menjadi bintang. Lihatlah sekujur langit, buka matamu lebar-lebar, maka kau akan menemukan jutaan bintang di atas sana. Meski cahaya sebuah bintang akan berhenti bersinar suatu saat, bukan berarti bulan akan kesepian. Karena apa? Sebab masih ada jutaan bintang lain yang tersisa. Bahkan, bisa saja bulan lebih menyukai bintang yang lebih benderang jika suatu saat kau meredup.”
***
            Di pinggir sungai samping rumah tempat aku biasa bertegur sapa dengan kenangan, Arlina menggamit lenganku. Aku yang sedang terduduk, sontak menoleh, mendongakkan kepala. Hai, katanya. Perempuan berambut lurus panjang itu pun beringsut duduk di sebelahku. Ia memandangiku dengan binar matanya yang cemerlang. Bibir tipisnya sedikit melebar, meski terkatup rapat terlipat ke arah dalam. Cuping hidungnya tampak menegang. Aku tahu ia sedang menahan tawa.
            “Tebak, apa yang ingin aku ceritakan?”
             Aku mencoba memasang wajah sinis. “Tak usah bertele-tele. Katakan saja.”
            Sontak, jidat Arlina mengernyit, matanya menyipit. Sejujurnya, aku menyukai ekspresinya saat ia sedang seperti itu; raut muka yang sebal, sementara aku suka menjadi sosok yang menyebalkan. Satu lagi, yang kusenangi darinya adalah, beberapa detik lagi, lihat saja, rasa sebalnya akan sirna.
            “Rosyad bilang kalau dia menyukaiku,” lanjutnya sembari tersenyum (Nah!).
            Berkebalikan dengan Arlina yang tampak bahagia, kata-kata itu justru membuat jantungku sejenak berhenti berdetak. Selanjutnya bergejolak. Aku tak tahu kenapa ia lebih menyukai penyair itu daripada diriku. Kendati memang kalah puitis, sebetulnya aku pun tidak kalah romantis.
            “Lalu?”
            “Iya, dia juga bilang kalau aku seperti bintang selepas petang. Indaaah… sekali. Romantis, kan?”
            Cih!? Sungguh aku tak tahu jalan pikiran perempuan. Hanya dengan bualan yang siapa pun bisa mengatakannya, hatinya meleleh. Menjadi bintang selepas petang saja sudah senang, bagaimana jika sedang siang!?
            “Kenapa kau diam saja, Eden?” tanya Arlina memasang wajah cemberut, “Kau tidak memerhatikan ucapanku, ya?”
            Aku terdiam beberapa saat, tetap dengan tatapan yang mengarah ke wajah manisnya. Lantas, kukatakan kepadanya bahwa bulan tak pernah setia. Bintang ada di mana-mana, semuanya berpijar, semuanya juga tampak indah.
            “Terus, kalau kau jadi Rosyad, kau mau jadi apa untukku?”
            “Jangan samakan aku dengan dia!”
            Arlina menghela napas selepas ia mendengar jawaban yang terlontar dari mulutku yang lepas. “Baiklah. Jika kau menjadi Eden, kau mau menjadi apa untuk Arlina?”
            Kututup mata ini, ingin sekali perkataanku beberapa detik lagi memang berasal dari hati. Kuberitahukan kepadanya bahwa aku lebih memilih untuk menjadi hujan daripada bulan. Meski aku tahu betul, tak pelak lagi keduanya memiliki kesamaan analogi. Hujan terkait dengan tumbuhan yang sebetulnya juga berjuta-juta jenisnya. Tumbuhan ada di mana-mana, yang otomatis hujan tak pernah bisa memilih ke mana ia akan turun ke bumi, kepada siapa ia akan menyirami. Tapi aku tetap diam, semoga dia tak tahu maksudku; jika hujan datang, maka bulan akan melindap terdekap gelap.
            “Lalu, jika kau menjadi hujan. Aku menjadi apa?”
            “Middlemist merah,” sambarku cepat.
            Arlina mengerutkan dahinya. “Hah!? Apa itu?”
            “Hmmm, itu  bunga langka, yang sebetulnya sekarang telah punah. Makanya, jika kau adalah Middlemist Merah, tentu kau satu-satunya di dunia ini. Dan akulah yang akan menyiramimu, agar kau tetap indah, supaya kau tidak layu.”
            Arlina mengangguk-anggukan kepala, bibirnya merunjung seperti paruh burung. Aku senang jika dia mulai mengerti, meski dalam hati, diri ini berpikir dia beloon sekali. Takah-takahnya aku setuju dengan pepatah: perempuan kian lugu kian ayu. Maka, memang sekarang ia terlihat menggemaskan dan lucu. Ironisnya, boleh jadi aku saja yang terlalu dini bersenang hati, karena setelah matanya menyeruak jantungku yang beriak, iris matanya tampak bergerak-gerak. “Ah, kau benar Eden. Baiklah, aku akan segera menanyakannya kepada Rosyad. Aku bintang apa baginya,” pungkas Arlina seraya beranjak meninggalkanku. 
***
            Sebentar lagi surya tenggelam berganti malam nan kelam. Di saat itu pulalah, ketakutan selalu mengikis nyali saya. Tatkala kegelapan tersulam dengan sendirinya, mata saya bisa saja membelalak akibat bayang-bayang kenangan yang bersisa nestapa. Saya memang selalu gamang dengan malam yang membuat mamang. Segalanya bermuasal dari kejadian dua puluh tahun silam, pada sebuah tengah malam yang sunyi.
Kebetulan, ketika itu saya yang masih SD tak kunjung jua memejamkan mata. Tiba-tiba, terdengar suara gesekan kaki teruar jelas hingga masuk ke telinga ini. Mulanya, saya hanya diam dan menganggapnya ayah atau ibu saya—tentu karena saya sudah berani tidur tanpa ditemani sehingga saya sudah memiliki kamar sendiri. Tapi, setelah ada barang yang terjatuh, hati saya sontak merapuh. Tak biasanya orang rumah beraktivitas pada jam-jam seperti itu—atau memang saya saja yang tak pernah tahu. Nyatanya, rasa penasaran di benak saya bersikukuh untuk melihat segalanya dengan utuh. Saya bangkit, lalu membungkuk, mendekati pintu dengan menyuruk-nyuruk.
Betapa terkejutnya saya melihat seseorang serupa bayang-bayang mengendap-ngendap di ruang tamu. Saya melihatnya dari sela-sela pintu yang baru saja saya buka. Nahasnya, sinar lampu kamar saya yang menjelanak melewati celah pintu, menumbuk dan membentuk garis cahaya vertikal pada tubuh manusia bayangan itu. Sekilas, matanya tampak melotot menyorot ke arah saya. Sungguh saya menjadi ketakutan karenanya. Pintu saya banting, lantas saya memekik keras-keras.
Saya tidak ingin menceritakannya lebih detail lagi, karena segalanya membuat rongga-rongga ini terpanggang dendam; kebencian yang tak akan tuntas sebelum saya menuntut balas. Yang jelas setelahnya, Ayah dan Ibu dibunuh oleh lelaki pencuri, yang tidak lain adalah paman saya sendiri. Saya tidak tahu ini keberuntungan atau kesialan, nyawa saya terselamatkan oleh beberapa warga yang mendatangi rumah saya. Paman dibekuk, dan sekarang ia berada dalam penjara.
Sejak saat itu saya hidup dengan Nenek di desa. Katanya, rumah orangtua yang berada di kota, dijual untuk membiayai hidup saya selanjutnya. Syahdan, semuanya menjadi permulaan yang mengantarkan saya kepada Eden dan Arlina. Kami berkenalan, kemudian menjadi sahabat yang—semoga saja saling—tak tergantikan.
***
            Rosyad pernah bercerita kepadaku tentang alasan ia tak menyukai malam, tak menyukai kegelapan. Aku memakluminya, sebab kupikir memang tak akan mudah untuk menjalani hidup sepertinya. Maka, saat ia mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi rembulan, hatiku bahagia luar biasa. Hanya saja, kini kebahagiaan itu telah sirna lewat secarik kertas yang ditinggalkannya. Karenanya, hingga detik ini aku tahu benar bahwa, ia tak akan pernah menemui aku dan Eden lagi.
            Teruntuk Arlina bintang hati saya. Mungkin, sudah sepantasnya saya tiba-tiba datang dan kemudian pergi. Lewat surat ini, saya hanya ingin meminta maaf jika betapa pernah tebersit rasa cinta di hati ini. Entah saya yang terbutakan cinta, atau justru kamu yang menguatkan saya. Sungguh saya tak pernah berdusta jika saya benar-benar membenci malam. Tapi setelah saya bertemu denganmu, berutas-utas rindu akan teruntai selalu, semuanya seperti titian dukungan yang tiada habisnya. Terima kasih, Arlina.
Jujur, saya tak mengerti tentang hukum di negeri ini. Hukum seperti memandang kasta, bukan dari penegakan sejati. Entah bagaimana caranya, paman saya yang katanya divonis seumur hidup, beberapa hari lagi akan keluar dari penjara. Kabarnya memang, ia ditolong temannya yang konglomerat. Dan betapa saya menjadi lebih bingung, apa motif sebenarnya paman saya kala itu menyulap dirinya menjadi pencuri!? Karena bagi saya mengeluh dan tetap diam bukanlah hal yang masuk akal, maka, mungkin memang inilah jalan bagi saya untuk menuntut balas. Maafkan saya, Arlina.
Dan teruntuk Eden bintang hati saya yang lain. Kamu juga tak kalah hebatnya dengan Arlina. Kamulah teman lelaki terhebat yang pernah  saya punyai. Betapa saya tak akan melupakan saat kamu mengerjai saya dengan menutup mata ini dengan kedua telapak tanganmu, betapa saya teringat pula kamu mengajak saya untuk bermain petak umpet di malam hari. Saya tahu kamu menyukai Arlina. Pula, lewat surat ini saya mohon dengan sangat, jangan pernah menyakiti hatinya. Maafkan saya Eden, sebab saya pernah mencintai Arlina. Dari sahabat kalian: Rosyad.  
            Kupandangi wajah Eden yang ikut pula membaca surat dari Rosyad. Matanya berkaca-kaca, mungkin juga sama dengan kondisi mataku saat ini. Aku mendongakkan kepala ke arah langit; tak ada bulan di sana karena tertutup mendung yang pekat. Eden lalu memelukku... lama sekali.
            Rintik-rintik gerimis mulai menempias wajah setiap kami. Namun kami tetap berdiri saling mendekap, terpaku di tepi sungai samping rumah Eden. Kupikir benar-benar, sepertinya aku memang telah siap untuk menjadi Middlemist Merah. Dan atas nama kidung hujan di malam ini, aku percaya bahwa Eden benar-benar mencintaiku dengan setulus hati. Meski, pada sisi yang lain hati ini juga meyakini, kendatipun bulan tak tampak dari sini, ia akan tetap bercahaya di belahan dunia lain yang tak pernah kumengerti.